Doa Untuk Kamu.

Dari sekian banyak doa yang aku pernah aku pinta ke Tuhan selama 27 tahun ini, mungkin nama kamu yang paling banyak aku sebut. Selain nama keluargaku. 

Kamu bukan keluarga aku. Kamu belum menjadi bagian dari keluargaku. Tapi mungkin nanti di masa depan kamu akan masuk menjadi bagian terpenting di dalam hidupku. Mungkin nanti di masa depan kamu akan menjadi imamku dan ayah dari anak-anakku.
Untuk sekarang, hanya nama kamu yang masih muncul saat aku menginginkan siapa imam tersebut.
Untuk sekarang, hanya kamu yang ingin aku urus di masa tua nanti. Kamu dengan segala sikap ajaibmu, dan aku dengan segala sifat anehku. 
Untuk sekarang, hanya kamu yang bisa mengendalikan diriku. Emosiku yang biasanya meluap-luap kini menghilang sudah saat berhadapan denganmu.  
Untuk sekarang, hanya kamu yang menjadi sosok pria bagi wanita sepertiku.
Untuk sekarang, aku yakin semua akan berjalan lancar hingga nanti.
Dan jika "cinta" dan "sayang" adalah kata yang paling tepat menggambarkan luapan dan campuran perasaan yang aku rasa, itu hanya untuk kamu.
Untuk sekarang, semuanya hanya kamu. 

Yang aku pinta hanya satu darimu; percayalah. Percaya padaku, percaya pada petunjuk Tuhan, dan segala firasat yang telah diberikan-Nya. Ia tak akan memberikannya jika tidak ada restu dari-Nya.

Jangan biarkan pikiran negatif menguasaimu, karena kamu terlalu cemerlang untuk tenggelam.
Jangan biarkan jarak memberikan efek negatif kepadamu. Aku selalu ada.
Karena doa adalah jarak yang paling dekat.



Tunggu aku disana ya, teruntuk pria beruangku...



Self Recognition.


Semakin bertambah usia, semakin sadar dengan seluk beluk diri sendiri. Mungkin karena waktu yang kita miliki semakin bertambah untuk mempelajari diri sendiri. Mungkin juga karena seiring berjalannya waktu, pengalaman yang kita dapat semakin membuat kita bisa memilah-milah mana yang kita suka dan mana yang tidak kita suka.

Atau juga mungkin kita semakin mendapatkan penguatan (reinforcement) mengenai penilaian kita atas diri kita sendiri. Contohnya: sekarang kita baru sadar betapa sukanya kita pada alam, padahal sedari kecil kita memang suka diajak jalan-jalan oleh orang tua ke gunung atau pantai. Dari kecil kita sudah suka hal ini, tapi semakin dewasa semakin banyak hal yang menguatkan diri kita bahwa kita memang mencintai hal tersebut.
Apa ya istilahnya? Semut di ujung terlihat, gajah di pelupuk tak terlihat? (Iya kali ya).

Semakin gw bertambah dewasa, ada banyak hal yang makin membuat gw semakin mengenal dan menilai diri sendiri. Percayalah, lebih sulit mengenali diri sendiri dibanding mengenal dan menilai orang lain.

Gw semakin percaya bahwa gw membenci keramaian. Gw semakin yakin gw tidak suka suara-suara berisik. Gw semakin yakin gw tidak suka tempat-tempat semacam club, diskotik, you-name-it-whatever-is-it.
Ternyata sejak kecil memang gw ga suka dengan tempat yang ramai dan suara bising. Gw sensitif dengan bunyi-bunyi yang nyaring. Sering perhatian gw terpecah saat mendengar suara yang mendistraksi pikiran, entah itu suara knalpot motor, suara orang ngobrol, bahkan suara tetesan air.
Dan bukannya gw tidak pernah mencoba tempat-tempat clubbing. Cukup sudah gw melewati masa-masa kebandelan itu. Hahaha. Tapi entah kenapa sampai sekarang gw ga suka banget. Bagi gw sulit untuk memahami dan menikmati apa enaknya berkumpul di tempat remang-remang ramai-ramai, joget-joget, bau asap rokok, dan belum lagi melihat kelakuan lainnya.
Gw bahkan ga suka nongkrong-nongkrong di cafe atau mall. I even hate malls. Kalau bukan karena butuh bioskop atau toko bukunya, gw mungkin ga akan pernah lagi ke mall. 
Kebiasaan jadi "anak rumahan" ini terbentuk dari kecil sih. Memang orangtua dari gw kecil jarang banget ngajak gw ke mall. Setiap minggu almarhum bokap selalu ngajak ke tempat pemancingan, nonton rally mobil, berenang, lomba balap tamiya, anything but mall pokoknya. Gw mengenal mall sejak remaja, karena sering diajak temen-temen. Dan itu yang menyebabkan kenapa gw jadi "anak rumahan".
Kalau bukan demi orang-orang tertentu, demi temen deket atau ingin ambil suatu barang, susah deh buat ngajak gw keluar rumah. Tapi, sekalinya gw jalan-jalan, pasti gw ke tempat yang jauh banget. Karena memang gw suka banget travelling dan mengenal tempat baru. Lebih tepat disebutnya "anak rumahan yang jarang keluar rumah tapi sekalinya keluar rumah malah bisa ke pulau lain." :D

Kalau mau ajak gw keluar, gw prefer dibawa ke tempat yang proper ada live music dari band yang membawakan lagu-lagu tahun 90-an ke bawah, gw bakal jadi sahabat lo. Atau jika diajak nonton konser band kesukaan gw, gw jadiin deh lo saudara. 

Semakin dewasa gw juga semakin menyadari bahwa gw adalah orang yang amat-sangat sabar. Entah dari mana gw bisa dapat kesabaran gw ini. Mungkin emang salah satu berkat dari Tuhan kali ya? :D
Dan satu berkat Tuhan yang gw sadari, bahwa intuisi gw sangat kuat. Dari remaja gw udah sadar dan sampai sekarang makin banyak hal-hal yang bikin intuisi gw semakin mudah dimanfaatin.

Setelah beberapa tahun ini bergelut di dunia psikologi dan HRD, gw juga sadar bahwa suka sangat suka memberikan servis yang excellent ke orang-orang sekitar. Entah itu rekan kerja atau siapapun. Memang bagus sih untuk selalu menyenangkan orang-orang, tapi lama-lama dirasa kok capek juga ya. Bahkan capek banget, karena ternyata tidak semua orang MAU untuk mengerti kondisi kita namun mereka INGIN kita SELALU mengerti kondisi mereka.
Padahal gw kan juga manusia, wanita pula. Hmmm...

So, sejauh apa kalian mengenal diri kalian sendiri? 

The Art of Waiting

Jika menunggu bisa digaji, mungkin aku sudah jadi miliuner.
Jika bersabar mampu menghasilkan uang, mungkin aku sudah keliling dunia.

Tapi aku masih belum tahu apa arti dari menungguku dan bersabarku.
Yang aku tahu hanya aku masih mampu untuk menunggu, dan aku masih mampu untuk bersabar.

Aku masih menunggu ya, karena kamu juga masih ingin ditunggu.

Hatred.

Rasanya ingin marah pada Tuhan.
Akhir-akhir ini aku ingin marah pada semua orang, pada semua hal.

Berikan satu alasan agar aku tidak membenci Tuhan.
Berikan satu alasan yang baik.

Jangan Lagi.

Aku yakin ketika aku berdoa selama ini, Tuhan menunjukan bahwa ini semua memang berujung pada kamu. Pada diri kamu.

Perjuanganku selanjutnya adalah, sejauh mana aku mampu bertahan? Sekuat apa lagi yang bisa aku tunjukan?

Jangan menguji aku lebih lanjut, karena aku belum pernah mengujimu sekali pun.
Kamu yang paling tahu kemampuan aku.
Kamu yang paling tahu kuatnya aku seperti apa.
Jadi jangan menguji aku lagi...

Jangan Cintai Aku Apa Adanya.

"Kamu bisa lebih berarti dari hanya sekedar mencintaiku apa adanya.
Apa arti cintamu kalau tidak membawaku terbang tinggi, terus bermimpi, dan menggapainya?

Aku butuh lelaki yang mencambukku saat aku berhenti berlari.
Aku butuh lelaki yang menimang dan meninabobokan supaya aku bisa terus bermimpi, lalu membangunkanku untuk mengkaji mimpi-mimpi dan mengkalkulasi perwujudannya.

Aku butuh lelaki yang mau membeli dunia bersamaku,
yang tak bosan mendengar bualanku,
yang tak gentar beradu pendapat denganku,
yang mengusap mukaku selepas berdoa, bukannya mendoakan di belakangku.
Melengkapi  setiap kalimatku, bukan memotong atau menyepelekannya.
Mengoreksi gangguan jiwaku, bukan mencarikan ahli jiwa.
Menggandeng aku di jalan yang berliku, bukannya meluruskan jalanku.

Jika kau cuma lelaki yang menerima aku apa adanya, untuk apa ada kamu?
Toh tanpamu tidak ada bedanya, aku tetap seperti ini.

Berhenti mencintaiku apa adanya...
Aku membutuhkanmu lebih dari itu, lebih dari sekedar melengkapi.
Aku membutuhkanmu untuk melewati batas kemampuanku,
mendengarkan apa yang membuatku tuli,
melihat apa yang membutakanku,
membantukuku mencapai apa yang tanganku tak sampai,
mengejar apa yang tak mampu kakiku kejar,
merasakan apa yang hatiku tak peka...

Aku membutuhkanmu, lebih dari sekedar lelaki yang mencintaiku apa adanya..."

(Dikutip dari Dessy Pratiwi, 12 Februari 2011)

Paradoks.

Kamu, makhluk paling sulit yang pernah aku temui.
Makhluk paling rapuh yang aku kenal.
Sekaligus makhluk yang paling gampang dicintai.
Makhluk yang paling sering aku rindui.

Kamu jangan sering-sering tenggelam dong.
Urusan tenggelam itu cukup untuk aku saja yang tenggelam.
Karena aku sudah terbiasa untuk kembali ke permukaan dan menyelaminya lagi.
Untuk kamu, kamu tidak usah tenggelam ya... Biar aku yang menarikmu ke permukaan.

Teruntuk, Kryptonite-ku di pulau Borneo.