The Art of Waiting

Jika menunggu bisa digaji, mungkin aku sudah jadi miliuner.
Jika bersabar mampu menghasilkan uang, mungkin aku sudah keliling dunia.

Tapi aku masih belum tahu apa arti dari menungguku dan bersabarku.
Yang aku tahu hanya aku masih mampu untuk menunggu, dan aku masih mampu untuk bersabar.

Aku masih menunggu ya, karena kamu juga masih ingin ditunggu.

Hatred.

Rasanya ingin marah pada Tuhan.
Akhir-akhir ini aku ingin marah pada semua orang, pada semua hal.

Berikan satu alasan agar aku tidak membenci Tuhan.
Berikan satu alasan yang baik.

Jangan Lagi.

Aku yakin ketika aku berdoa selama ini, Tuhan menunjukan bahwa ini semua memang berujung pada kamu. Pada diri kamu.

Perjuanganku selanjutnya adalah, sejauh mana aku mampu bertahan? Sekuat apa lagi yang bisa aku tunjukan?

Jangan menguji aku lebih lanjut, karena aku belum pernah mengujimu sekali pun.
Kamu yang paling tahu kemampuan aku.
Kamu yang paling tahu kuatnya aku seperti apa.
Jadi jangan menguji aku lagi...

Jangan Cintai Aku Apa Adanya.

"Kamu bisa lebih berarti dari hanya sekedar mencintaiku apa adanya.
Apa arti cintamu kalau tidak membawaku terbang tinggi, terus bermimpi, dan menggapainya?

Aku butuh lelaki yang mencambukku saat aku berhenti berlari.
Aku butuh lelaki yang menimang dan meninabobokan supaya aku bisa terus bermimpi, lalu membangunkanku untuk mengkaji mimpi-mimpi dan mengkalkulasi perwujudannya.

Aku butuh lelaki yang mau membeli dunia bersamaku,
yang tak bosan mendengar bualanku,
yang tak gentar beradu pendapat denganku,
yang mengusap mukaku selepas berdoa, bukannya mendoakan di belakangku.
Melengkapi  setiap kalimatku, bukan memotong atau menyepelekannya.
Mengoreksi gangguan jiwaku, bukan mencarikan ahli jiwa.
Menggandeng aku di jalan yang berliku, bukannya meluruskan jalanku.

Jika kau cuma lelaki yang menerima aku apa adanya, untuk apa ada kamu?
Toh tanpamu tidak ada bedanya, aku tetap seperti ini.

Berhenti mencintaiku apa adanya...
Aku membutuhkanmu lebih dari itu, lebih dari sekedar melengkapi.
Aku membutuhkanmu untuk melewati batas kemampuanku,
mendengarkan apa yang membuatku tuli,
melihat apa yang membutakanku,
membantukuku mencapai apa yang tanganku tak sampai,
mengejar apa yang tak mampu kakiku kejar,
merasakan apa yang hatiku tak peka...

Aku membutuhkanmu, lebih dari sekedar lelaki yang mencintaiku apa adanya..."

(Dikutip dari Dessy Pratiwi, 12 Februari 2011)

Paradoks.

Kamu, makhluk paling sulit yang pernah aku temui.
Makhluk paling rapuh yang aku kenal.
Sekaligus makhluk yang paling gampang dicintai.
Makhluk yang paling sering aku rindui.

Kamu jangan sering-sering tenggelam dong.
Urusan tenggelam itu cukup untuk aku saja yang tenggelam.
Karena aku sudah terbiasa untuk kembali ke permukaan dan menyelaminya lagi.
Untuk kamu, kamu tidak usah tenggelam ya... Biar aku yang menarikmu ke permukaan.

Teruntuk, Kryptonite-ku di pulau Borneo.

Untuk Kamu.

Mereka bilang, manusia itu selalu membandingkan. Terutama wanita, makhluk ciptaan Tuhan yang tingkat insecure-nya sangat tinggi.
Tak terkecuali aku. 

Kalau wanita lain suka ke salon setiap minggunya, aku ke salon mungkin hanya dua kali dalam setahun.
Kalau wanita lain merindukan mall dan pusat perbelanjaan setiap merasa tertekan, aku merindukan teriknya matahari, aroma laut, dan menari bersama makhluk laut di dalam dinginnya laut.
Kalau wanita lain pandai memoleskan make up di wajahnya, aku membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk memoleskan eye liner dengan sempurna (dan bahkan masih berantakan).
Kalau wanita lain senang mengunjungi bar dan club di akhir pekan, aku lebih suka tidur-tiduran di depan TV sambil mengobrol santai dengan keluarga dan teman-teman dekat.
Kalau wanita lain pintar mengambil foto selfie (diri sendiri) dan hasilnya cantik (entah hasil editan atau tidak), hasil foto selfie-ku selalu amburadul, tidak ada cantik-cantiknya.
Kalau wanita lain rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk memasang hair extension agar rambutnya terlihat panjang, aku lebih mempercayakan kerjanya tangan Tuhan agar rambut ini bisa panjang alami dan indah.
Kalau wanita lain memiliki kulit yang mulus, tak bernoda, dan putih.. Kulitku terlihat gosong dimana-mana dengan warna yang tidak rata, goresan luka akibat olahraga laut yang masih berbekas, bekas alergi, dan tidak terawat.
Kalau wanita lain rela menghabiskan ratusan ribu rupiah setiap bulannya untuk membeli perlengkapan make up, aku rela menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk membeli buku dan menabung untuk trip selanjutnya.
Kalau wanita lain bisa berpura-pura bodoh dan tidak tahu akan sesuatu hal, aku adalah orang yang tidak mau kalah dengan orang lain. Aku tidak mau terlihat bodoh di depan siapapun, karena itu aku selalu belajar dan belajar.. Aku senang terlihat pintar.
Kalau wanita lain mampu mengekspresikan kemanjaan dan kemanisan dirinya di hadapan pasangannya, aku termasuk orang yang pemalu. Aku bahkan terlihat datar jika kamu ajak berbicara serius. Ekspresiku tidak bisa seperti wanita lain pada normalnya.

Aku tidak manis, dan tidak bisa jadi wanita yang manis.
Aku kaku.
Aku tidak terbiasa dirawat. Aku lebih suka merawat orang lain.
Aku tidak terbiasa mengekspresikan diri dengan manis. Aku lebih suka diam-diam memperhatikan dan memberikan.
Aku tidak bisa menjadi manja. Aku dituntut untuk menjadi orang yang mandiri.
Aku tidak suka keramaian. Aku lebih suka kesunyian atau bersama orang-orang yang aku kasihi.

Jadi, sudah yakinkah dirimu untuk bisa mengayomi diriku yang sebegitu ngeyelnya? Sudah siapkah dirimu menerima untuk diriku yang tidak manis ini? 

Jika kamu mampu mengatakan "Iya" dengan keyakinan yang mantap, aku rasa aku akan mulai mempercayakan semuanya kepadamu lagi.

Traveling Bersama Tuhan.

Ketika saya memutuskan untuk lebih banyak lagi menjelajahi bumi ini, itu bukan semata-mata saya merasa harus memenuhi rasa haus saya akan berjelajah. Di masa sekarang ini, banyak yang memandang traveling adalah salah satu bentuk kegiatan untuk memuaskan dahaga akan banyaknya tempat-tempat indah di bumi ini. Terutama dengan menjamurnya akses ke dunia media sosial dan internet, orang-orang dapat dengan mudahnya mengakses informasi mengenai tempat-tempat berlibur. Didukung pula dengan adanya komunitas para traveler, harga tiket yang sering promo, pihak penyelenggara tour ataupun open trip yang semakin kreatif dalam memasarkan produk dan jasa mereka, maka semakin lengkaplah mimpi para traveler di Indonesia.

Namun bagi saya, traveling itu memiliki esensial tersendiri.
Traveling bukan sekedar mengunjungi tempat-tempat eksotis dan "pengasingan" bagi jiwa yang membutuhkannya.
Traveling bukan sekedar "mengoleksi" check point sebanyak-banyaknya dan siapa-yang-telah-mengunjungi-berapa-kota-negara-pulau-dialah-pemenangnya.
Traveling bukan sekedar bertemu teman-teman baru di perjalanan.
Traveling bukan sekedar ajang menghitamkan kulit dan bersenang-senang di dalam magisnya keindahan laut.
Traveling bukan sekedar mengejar titik gunung tertinggi dan berdiri di puncaknya.
Dan traveling juga bukan sekedar mengagumi keindahan dan kemegahan ciptaan-Nya yang tidak ada tandingannya.

Sungguh, traveling bukan sekedar memori dan pengalaman di atas. 

Bagi saya, traveling adalah menemukan kepingan diri dan Tuhan di setiap lekuk tempat asing yang saya kunjungi.
Traveling adalah bagaimana diri ini mampu memeluk alam dan alam kembali memelukmu atas kuasa-Nya.
Traveling adalah tentang bagaimana diri ini belajar bahwa manusia adalah makhluk hidup paling hebat sekaligus menyeramkan yang pernah diciptakan oleh Tuhan.
Traveling adalah tentang bagaimana diri ini mampu menemukan saudara-saudara di setiap manusia baru yang saya temui.
Traveling adalah tentang seberapa jauh diri ini bisa keluar dari zona nyaman yang mengkungkung dan membosankan. Betapa hebatnya diri ini mampu bertahan di tempat dingin yang kau pikir kau tidak akan mampu, betapa hebatnya paru-paru ini mampu menyelam ke dalam laut, betapa hebatnya tubuhmu jika kau mampu mengendalikan otakmu. 
Traveling adalah proses belajar. Belajar tentang betapa kecilnya kita di dunia ini. Belajar mengenali diri sendiri. Belajar sejauh apa kau mengenal dirimu.
Traveling adalah proses menemukan dan mengenal Tuhan. Dan ketika Tuhan memelukmu kembali, rasanya tidak ada tandingannya.

Karena itu semua, saya sangat menyukai kegiatan duduk-duduk "bengong" dan "leyeh-leyeh" sendirian di tempat-tempat baru. Entah itu di pinggir pantai, di atas gunung, di dermaga, di taman, atau di mana pun. 
Saya senang dengan "me time" saya tersebut. Mungkin jika orang lain melihat, diri saya terlihat depresi dengan duduk di ujung puncak gunung atau pun dermaga pantai sendirian dan memandang nanar kejauhan.

Tapi otak saya tidak pernah kosong. Saya sedang berusaha "berbicara" dengan Tuhan saat itu.

Pada akhirnya, kita semua memiliki cara tersendiri untuk menemukan Tuhan.
Terimakasih, Tuhan... Atas kaki, paru-paru, mata, dan semua kondisi fisik di tubuh ini yang masih prima untuk menikmati keindahan diri-Mu. :)


-Ebby, the wanderer